Senin, 30 Januari 2012

Patah Hati (Part Two)

“Cinta. Mereka tak pernah habis dekelupas, begitu pun bila semakin dalam kamu rindui, semakin banyak yang akan kamu temui.” --


Persis seperti kenangan. Sesuatu yang pernah terjadi, tidak semuanya membekas. Sebagian yang teramat bahagia atau teramat menyakitkan saja yang akhirnya melekat erat seperti dilem besi di otak saya, yang apabila saya paksa lepas, maka saya sendiri yang akan terluka.

Saya banyak menangisi rindu akhir-akhir ini, banyak menyerapah sang waktu, kemudian banyak mengecilkan diri saya sendiri. Berpikir bahwa “betapa bodohnya saya, karena telah mencintai hati yang salah”.

Saya sadar, cinta tak pernah salah jatuh, hanya saja, cinta tak selalu berhasil ditangkap dengan baik. Ada kalanya kita akan jatuh hanya untuk “merasakan” bagaimana rasanya terhantam, kesakitan, lalu belajar untuk tak melakukan yang demikian kembali.

Lalu saya pun akan melewati masa berlarut berpangku dalam kecemasan. Tahu kan rasanya cemas karena kecewa? Cemas karena baru saja kehilangan hal penting dalam hidupmu, cemas karena bagian terbaik dari sebuah liburan baru saja lewat.

Seperti itulah hati, mereka mudah cemas, bila merasa mulai menjauh dari hal baik yang pernah dirasakan. Apalagi, bila kamu cemas karena cintamu telah berhasil menemukan hati yang lain, namun hatimu tak beranjak kemana pun.

Sahabat saya pernah berkata seperti ini, dan menurut saya sangat benar.

Pernah mencoba menyentuh lem besi dengan ujung jarimu lalu menempelkannya ke ujung jarimu yang lain? Ketika keduanya coba kamu lepaskan, kamu akan merasakan perih. Begitu pula ingatan. Begitu pula bagian-bagian kenangan dalam hati.


Tapi itu bukan berarti mereka tak mampu “lepas”. kamu hanya perlu lebih berani untuk merasakan “perih” sedikit, untuk dapat merasa bebas dari rekatan yang membuatmu merasa tak nyaman.

Jadi, ini bukan soal melupakan cinta yang pernah ada di hati. Ini soal apakah kamu cukup berani melepaskan mereka untuk kemudian dimiliki hati yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar