Mamaku,
dia perempuan biasa yang sungguh luar biasa. Aku yakin, kebanyakan anak pasti
menganggap ibu merekalah yang terbaik.
Biarpun mama setiap hari memarahiku karena aku 'sedikit' bandel tapi mama tetap dan tidak bosan-bosannya mengajariku untuk tetap tegar dalam segala hal. Hidup ini keras, kata beliau.
Dan aku,
adalah seorang perempuan yang memiliki cita-cita menjadi seorang ibu rumah
tangga. Memang ingin bekerja, tapi tidak berniat kerja di kantor dan
menghabiskan banyak waktu diluar rumah. Jika kelak sudah waktunya, aku ingin
bisa kembali bekerja di rumah. Memasak makanan enak untuk suami serta anak-anak
dan menjadi mama yang sehat untuk mereka sampai kelak mereka dewasa. Menjadi seorang ibu adalah suatu pekerjaan yang mulia.
Mamaku
adalah perempuan yang pandai memasak, mengurus anak, bahkan menjahit. Bisa
menciptakan uang dengan keahliannya tersebut tanpa harus pergi dari rumah. Dan
aku ingin seperti itu. Aku tidak mengatakan bahwa wanita yang bekerja kantoran
tidak lah mama yang baik, aku hanya saja tidak merasa bisa se-kuat mereka.
Mereka sangat hebat dengan caranya sendiri.
Sekarang,
ketika mama tidak lagi se-sehat dulu. Untuk itu, aku begitu sadar bahwa
kesehatan sangatlah penting. Menjadi ibu yang sehat untuk keluarga kecilku
kelak pantas dijadikan cita-cita. Dan aku, ingin jadi mama yang sehat!
Aku
menyadari, setiap kasih sayang diuji ketika kita sakit, bukan saat sehat. Papaku,
adalah pria yang sangat hebat. Diusianya yang telah senja, dia masih selalu
sabar mengurus mama. Kami (aku dan dia) setiap harinya berusaha merawat mama
tanpa dibantu siapapun. Percayalah, kesabaranmu sebagai anak diuji
habis-habisan ketika orang tuamu sakit.
Maka,
tentu saja bagi kamu yang masih memiliki mama yang sehat, bersyukurlah, sayangi
beliau dengan baik, lebih sering lah tinggal di rumah bersamanya dari pada
menghabiskan banyak waktu di tempat lain. Jangan hanya ringan mengucap cinta
pada pacar, katakan kau cinta ibumu setiap waktu. Selamanya.
Mama, aku
begitu mencintaimu. Walau tidak akan pernah mampu menyamai ‘cinta’ yang telah
engkau berikan sepanjang hampir 19 tahun ini. Dan semoga di telapakmu kelak,
aku akan menemukan surga.
Mungkin
tak lagi bisa mengharap kau sesehat dulu, karena itu tidak mungkin. Tapi
setidaknya, bertahanlah dalam kehidupan ini untuk kami ma. Kakak, saya
dan papa yang menyayangimu habis-habisan, selalu dan selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar