Mengalah
bukan berarti kalah, bila kau melihat melakukannya adalah sebuah kemenangan.
Tetapi ketika itu telah menjadi kebiasaanmu, bagaimana itu bukan sebuah
kekalahan? Dan kemudian kau tertunduk di bawah langit mendung. Bertanya,
‘mengapa harus aku, lagi-lagi?’
Aku
meyakini tidaklah mudah menjadi ‘si baik hati’ di segala musim. Menjadi ‘si
penyabar’ di segala kenyataan. Menjadi ‘si bodoh’ di segala kebahagiaan milik
orang lain. Maka dari itu, Tuhan menciptakan perasaan agar kita bisa merasakan
apa yang ‘baik’ dan bagian ‘buruk’ mana yang harus ditinggalkan. Tapi
meninggalkan yang satu ini terkadang terasa seperti menghianati diri sendiri.
Saya
tak pernah punya adik. Tetapi saya tau ‘mengalah’ yang telah banyak ‘kakak’
berikan pada adiknya. Mereka mungkin melakukannya karena terpaksa. Mereka
merasa terpaksa melakukannya, karena mereka belum mengerti. Tapi itu bukan
terpaksa, jika pada akhirnya kau benar-benar melakukannya. Bagiku tidak ada
yang terpaksa dalam hidup ini. Semua yang terjadi adalah sebuah porsi yang
harus kau makan dengan baik, agar tak merusak pencernaanmu.
Semua
yang berani mengalah adalah seorang pahlawan. Tetapi semua yang terjebak di
dalamnya bukan lah pahlawan yang jelek. Mereka cukup baik untuk melalui hidup.
Hingga akhirnya mereka akan bahagia dengan porsi-nya.
Jika
sudah terlanjur terjebak, dan tidak ada jalan keluar. Bukan berarti kau tidak
bisa menciptakan bahagia di tempat yang lain. Kau hanya perlu belajar berkata
‘tidak’ sewaktu-waktu. Dan bilang, ‘Ini giliranku. Kau hanya perlu menunggu
hingga giliranmu datang kembali.’
Lalu
kau hanya perlu mensyukuri karena kau punya cadangan 'pengertian' melebihi
orang-orang disekelilingmu. Dan ketika mereka tak cukup menghargainya, Tuhan
masih melihatmu. Mungkin terdengar bodoh--tapi percayalah menjadi pintar juga
bukan hal yang melulu bahagia.
Kata papa
"baik-lah pd orang yg jahat padamu, kemudian lakukan-lah yg terbaik pd
mereka yang baik".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar