pagi tadi, saya
kembali menyadari satu hal. Kenapa saya begitu takut jatuh hati, yaitu karena
saya begitu takut dikecewakan. Kenapa? Karena saya menyadari bahwa saya orang
yang begitu sulit dipahami. Punya mood yang up and down, suasana
hati saya begitu terlalu cepat berubah. Saya juga cengeng, saya begitu pandai
menangis. Saya takut dengan kemarahan. Tapi mana hubungan yang tanpa
amarah?
Saya akan sulit
menerima ketika pasangan saya mendiamkan saya, atau akan begitu sedih ketika
pasangan saya marah. Hati saya terlalu lemah untuk membiarkan cinta masuk. Ya,
saya memang beberapa kali bertemu dengan orang yang bisa bertahan, tapi tidak
lama kemudian pun saya yang akhirnya mundur. Karena apa? Karena saya
begitu sadar diri, mungkin saya tidak cukup mampu membahagiakannya. Ini hanya
pikiran terburuk saya.
Saya bukan seorang
perempuan simple yang mudah dijatuhi atau menjatuhi cinta. Saya terlalu rumit,
dan itu sering kali menelan saya sendiri. Saya punya banyak hal yang harus saya
pikirkan, keluarga saya pun bukan keluarga biasa yang bahagia apa adanya. Kami
punya banyak kekurangan yang setiap hari coba kami perbaiki. Dan apakah ada
seorang yang mau menerima barang yang sedang direparasi? Walau saya bukan
barang, tapi toh saya tidak siap dipakai untuk membahagiakan, saya sedang
diperbaiki hidup. Tuhan sedang memberi saya kesempatan untuk menjadi manusia
yang lebih besar dengan memberi saya beberapa masalah besar untuk saya
selesaikan. Dan apakah ada pria yang cukup sabar menemani saya? Membantu saya? Menerima
saya apa adanya?
Hahaha, ini lucu
ketika saya tiba-tiba berpikir bahwa saya adalah sebuah barang yang tengah
direparasi. Tapi yang muncul di otak saya detik ini hanya itu. Saya bukan
sesuatu yang siap dipakai untuk membahagiakan(mu). Kamu harus siap dengan
kerusakannya, membantu saya memperbaikinya, atau bahkan siap menerima kesialan
karena kerusakannya. Seperti kamu tengah mengendarai kendaraan yang bisa
tiba-tiba mogok di perjalanan. Apa kamu siap mendorongnya hingga sampai ke
bengkel, mencari tahu mana bagian yang rusak dan memperbaikinya. Bahkan
menanggung biayanya. Agar kita bisa sama-sama sampai di tujuan.
Itu begitu besar dan
membuat saya berpikir, mana ada yang sanggup. Lalu saya akan menepi dan mencoba
memperbaikinya sendiri. Saya akan mencintai ketika saya telah sembuh dan mampu
bekerja dengan optimal. Tapi akan sampai kapan? Tapi seorang terdekat saya
bilang, 'beri cinta kesempatan untuk setidaknya masuk. Lalu, kamu baru boleh
memutuskan, untuk jatuh cinta atau tidak padanya.'
Mungkin untuk sebagian orang, itu mudah saja. Tapi tidak untuk saya, Sungguh.
Mungkin untuk sebagian orang, itu mudah saja. Tapi tidak untuk saya, Sungguh.
Akan ada waktunya,
saya siap untuk membahagiakan siapa yang bersedia mencintai saya...
Saat ini, saya tengah belajar jatuh cinta dengan lebih baik. Agar kelak, tidak menyesal karena (selalu) melewatkan mereka yang tengah berusaha mencintai saya.
Saat ini, saya tengah belajar jatuh cinta dengan lebih baik. Agar kelak, tidak menyesal karena (selalu) melewatkan mereka yang tengah berusaha mencintai saya.
“Cinta seperti apa yang pantas untuk diperjuangkan? Adalah cinta
yang mencintaimu kembali”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar