Hampir
seumur hidup ini sering sekali meyakini bahwa apa yang sulit di tangan saya
begitu mudah terbentuk di tangan orang lain. Kebodohan yang terus saja berulang
hingga waktu ini. Yang tak jarang membuat saya melewatkan begitu banyak
kesempatan dalam hidup, begitu banyak kesempatan untuk lebih bahagia dari hari
ini.
Entah
mengapa kerap sekali merasa bahwa kata “pujian” tidak lah tercipta untuk saya.
Setiap kali ada yang memuji lalu kemudian saya menjadi takut untuk berdiri.
Bodoh memang, tapi nyatanya itu ‘masih’ saja terjadi.
Seringkali
merasa tak cukup cantik untuk dibilang cantik, merasa tak cukup pintar untuk
dikatakan pintar, merasa tak cukup baik untuk dikatakan baik. Lalu saya bertemu
orang lain yang kemudian mengatakan hal yang sama. Dan nyatanya kita semua
sama. Selalu merasa tidak cukup untuk dikatakan cukup.
Bicara
tentu lebih mudah dari prakteknya. Dan saya pun masih saja sering menjilat
kembali setiap kata bijak yang saya tuliskan untuk orang lain. Menjadi diri
sendiri tidak pernah mudah, tapi itu mungkin karena kita terlalu sibuk mencoba
menjadi orang lain.
Saya
tidak pernah suka kata ‘sempurna’. Karena untuk saya, sempurna adalah sesuatu
yang tidak tercipta untuk ada di dunia ini. Mengejarnya adalah sebuah kebodohan
yang nyata. Kita hidup untuk menjadi lengkap, bukan sempurna. Bahkan
seorang buta pun lengkap dengan kebutaannya.
Tuhan
tidak pernah memberikan kesia-siaan dalam hidup. Setiap yang kau nilai
kekurangan yang ada padamu adalah sebuah keistimewaan yang membuatmu ‘berbeda’
dengan makhluk lain. Bukan pula salahmu jika ada orang-orang yang tidak siap
menerima perbedaan. Tapi untuk saya, tidak ada alasan untuk takut menjadi diri
sendiri, walau pun saya masih takut.
Kita melihat. Kita mempelajari. Kita memperbaiki. Kita melengkapi.
Jangan takut. Karena aku pun tekadang takut. Untuk merasa cukup untuk dikatakan cukup oleh kalian.
"I'm glad that no matter what happens in life, God always have my back."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar