Ada
tawa dan tangis. Ada senyuman dan kepedihan. Seperti dua mata sisi uang. Saling
berhubungan. Menempel satu sama lain. Tidak terpisahkan. Dari situlah manusia
bisa belajar melihat, merasakan, memahami setiap emosi dari dalam jiwa. Emosi
yang bisa terlihat hanya dengan melihat sekejap raut wajah orang lain. Manusia
menjalani kehidupan ini dengan tawa dan tangis, bahagia dan sedih, jatuh dan
bangun, harapan dan kekecewaan, cinta dan benci, serta kebaikan dan
kemaksiatan.
Mengekspresikan
emosi-emosi jiwa, manusia seringkali memakai topeng. Topeng yang menutupi wajah
asli mereka. Menutupi perasaan mereka.
Seberapa
lihai saya memakai topeng?? Saya menilai diri saya cukup pandai memakai topeng
kehidupan. Orang lain bisa melihat saya tertawa lepas walau hati saya perih
sekalipun. Orang lain bisa melihat saya tersenyum, namun hati saya sedang
menangis sejadi-jadinya. Orang lain bisa melihat saya termenung, tapi dalam
hati ada api yang membakar semangat untuk bisa tertawa lagi.
Perempuan lebih
pandai memakai topeng kehidupan. Itu
yang saya baca dari beberapa artikel di media massa. Karena inilah lelaki seringkali
salah memahami perasaan dari seorang perempuan. Mereka sulit menebak apa yang
sebenarnya dirasakan oleh seorang perempuan. Namun penelitian ini belum bisa
dijadikan sebuah teori karena masih bersifat subyektif, dan lagi semua
perempuan belum tentu pandai menggunakan topeng di wajahnya.
Ada kalanya sebuah senyum atau tetesan air mata adalah
kejujuran yang tidak bisa dibendung lagi untuk diperlihatkan pada dunia. Beberapa
teman saya mengatakan bahwa saya ekspresif dalam memperlihatkan apa yang bergejolak
di dalam hati. Apapun yang saya rasakan dapat terlihat dari sikap saya. Itu
kata mereka. Lain lagi dengan beberapa teman saya yang sungguh mati tidak tau
apa yang sedang saya rasakan dalam hati. Walau saya tertawa terbahak-bahak dan
tersenyum lebar, mereka tidak tau kesedihan macam apa yang sedang bertengger di
relung hati.
Walau begitu,
melepaskan topeng kehidupan sejenak bisa melegakan jiwa. Memberi peluang kepada
kita untuk menjadi diri sendiri. Menangis ataupun tertawa, ada orang lain yang
bisa mengulurkan tangan untuk memeluk, berbagi rasa dan memberikan energi
positif pada kita. Atau hanya sekedar meminjam kuping mereka untuk mendengar
perih hati.
Orang lain bisa
memberikan kekuatan pada kehidupan kita lewat wejangan-wejangan pedas yang
menampar jiwa. Mereka memberikan keyakinan pada diri bahwa semua baik-baik saja.
Bahwa hidup masih terus berjalan, dan matahari masih tetap bersinar. Dunia bisa
melihat manusia tanpa batasan, dengan tawa ataupun air mata. Dan dunia masih
ingin melihat itu semua dari manusia. Dari situlah warna-warni kehidupan bisa
terasa, pelajaran berharga bisa didapatkan. Dengan tawa dan tangis, manusia
bisa belajar memahami arti bahagia dan syukur. Dan topeng, masih selalu
dibutuhkan sesekali waktu. Yaa.. sesekali waktu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar